Kesaksian

KAREL KATANGGUNG
Redaksi - 01 August 2017

“KUASA KEGELAPAN MENGHALANGI SAYA UNTUK DI BAPTIS”

KAREL KATANGGUNG – GPKdI Filadelfia, Bitung

Sebelum mengenal Kristus secara sungguh-sungguh, walaupun isteri saya sudah merupakan seorang pelayan di gereja, gaya hidup saya benar-benar mengikuti gaya hidup dunia, seperti sering keluar malam, merokok mabuk-mabukan, dan lainnya.. Dalam hidup berumah tangga pun, tak jarang saya sering memukul isteri saya. Kalo lihat istri saya pergi beribadah atapun ada dirumah saya suka marah-marah.

Sampai suatu malam di bulan April 2013 saya bermimpi. Dalam mimpi, saya seperti dibawah ke suatu alam lain, tempat yang menurut saya bisa dikatakan seperti Neraka. Saya duduk diatas sebuah batu, dan kiri kanan saya semuanya api, saya juga melihat ada yang api turun dari langit. Selanjutnya saya melihat begitu banyak orang yang sudah meninggal dikawal dan dihajar oleh sosok berwarna gelap agak kehitaman dan bersayap. Ada juga orang-orang yang belum mengenal Tuhan di cambuk oleh sosok itu, yang bisa saya katakan itu adalah iblis. Mereka seperti digiring kesebuah jalan yang sangat besar sekali.

Saya merasa mimpi itu merupakan peringatan bagi saya, saya harus bertobat. Isteri saya berkata saya untuk terima Tuhan, memberi diri dibaptis, dan ikut Tuhan, tapi saat itu saya  masih tidak mau. Akhirnya saya tetap dengan kebiasaan lama saya dan tetap melupakan Tuhan.  Beberapa waktu setelahnya, sewaktu saya baru pulang dari melaut, (profesi saya pelaut), saya ketemu isteri, saya katakan ke dia kalau saya mau pergi membeli minuman (Minumas Keras). Isteri saya cuma bilang, “Saya sudah tidak mau menegur bapak lagi, biar nanti Tuhan sendiri yang menegur bapak”. Sampai pada saat saya lagi minum-minum, tiba-tiba saya merasa sudah sesak napas, seperti sudah tidak bisa bernafas lagi. Dalam kondisi seperti itu saya mencium-cium kaki isteri, saya minta ampun. “saya tidak bisa mengampuni bapak, hanya Tuhan yang bisa mengampuni, Bapak sendiri yang harus berdoa kepada Tuhan” kata isteri saya. Karena saya paksa terus isteri, dia pun mau berdoa, dan seketika itu juga saya langsung sembuh.

Hal itu ternyata tidak membuat saya jera. Besoknya, saya minum lagi, sampai saya sudah tidak sadarkan diri, yang saya ingat saya sudah terbaring di Rumah Sakit (RS. Angkatan Laut, Bitung) dengan alat bantu pernapasan dan begitu banyak selang infus yang masuk ketubuh saya. Saya melihat isteri disamping hanya terus berdoa dalam nama Yesus sambil meletakan tangannya di dada saya untuk kesembuhan saya.

Saya kembali teringat dan menyadari bahwa mimpi saya waktu itu suatu peringatan. Mulai dari situ saya bilang ke isteri. “Mama, saya harus di baptis, saya sudah ingin dibaptis, saya ingin berhenti semuanya, berhenti sering keluar malam, berhenti merokok, dan minum-minuman keras”. dan saya pun sembuh dari sakit.  Waktu untuk pembaptisan sudah direncanakan oleh bapak gembala (Pdt. Tony Kondorura) saya juga sudah diberikan bimbingan dan wejangan kalau saya harus ikut Kristus, jangan menyia-nyiakan waktu karena semakin hari kita semakin tua. Tapi yang terjadi, saya berubah pikiran, saya dari keluar gereja, saya katakan “Saya tidak mau dibaptis. dulu sewaktu kecil sudah di baptis, masa saya harus dibaptis ulang?”. Saya pun diberi pengertian tentang baptisan yang sebenarnya seperti apa, dan saya sendiri pada saati dirumah mendapat ayat peneguhan tentang baptisan yang sebenarnya seperti apa. Akan tetapi saat tiba waktunya, saya tidak jadi dibaptis karena ada “halangan”.

Juli 2013 saya berangkat lagi ke Philipine, untuk urusan pekerjaan. Sampai di Philipine, saya sudah tidak bisa melihat apa-apa, menurut rekan kerja saya, saya jalanya sudah tabrak orang sana-sini, Yang ada saya kaget saya sudah berada di RS (RS. Elisabeth, Philipine). Ternyata saya sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Dalam ruangan RS tempat saya dirawat inap, hanya ada saya sendiri. Saya pandang kelangit-langit, saya melihat seperti ada bayangan Tuhan disitu. Saya langsung sujud dan berkata “Tuhan ampuni saya Tuhan!, saya memang penuh dengan dosa, ampuni saya, kasihani saya. Bagaimana kalau terjadi apa-apa di sini dinegara orang”  Saya menangis, sujud, menangis sujud lagi, berdoa agar Tuhan beri saya kesembuhan. Walaupun badan saya dipenuhi selang infus yang menyulitkan saya bergerak, saya tetap memaksakan diri untuk sujud.

Keesokan harinya, saya berkata ke dokter, kalau bisa semua alat yang ada ditubuh dilepas semua, saya sudah sembuh, ada mujizat Tuhan. Dokter, tidak percaya dan tidak mengijinkan karena saya baru dirawat 3 hari, dan baru sadarkan diri. Saya pun dibawa sebuah ruangan untuk diperiksa lanjut. Dan benar semua penyakit diagnosa awal hilang semua, kecuali gejala batu ginjal. Sayapun tetap berdoa agar Tuhan sembuhkan penyakit itu.  

Kembali ke Indonesia, saya tetapkan hati untuk benar-benar di baptis. Tapi “halangan” kembali ada saat sudah mau tiba waktunya. saya dapat demam. Ibu rohani pun bercerita, bahwa ia sempat mendapat penglihatan. Dia melihat saya dilingkupi kuasa kegelapan, seperti ada akar pohon beringin yang membungkus saya. Ibu rohani tetap menasihatkan agar sorenya tetap baptis. “Halangan yang ada selama ini ada kuasa kegelapan, yang tidak menginginkan saya dibaptis”. Kata Ibu Rohani.

Jam 8 malam adalah waktu pembaptisannya. Bapak gembala juga berkata “jangan takut, Tuhan ada dipihak kita”. Saat saya menurunkan kaki saya untuk masuk ke kolam, yang sebelumnya air terasa begitu dingin, tiba-tiba berubah menjadi hangat. Dan sesudah keluar dari air baptisan, badan saya tidak ada lagi rasa dingin/demam. Badan terasa sehat, terasa ringan, serasa lepas semua beban yang ada.

Sayapun mulai menjalani hidup dengan meninggalkan kebiasaan lama saya, jimat/guna-guna yang saya pegang saya lepas, karena barang inilah yang selama ini menjadi penghalang. Sekarang saya sudah mulai rajin ke gereja. Bapak dan Ibu Rohani bilang kalau sekarang saya dan isteri terlihat berbeda dengan lain. Saya hanya berucap “Kalo ikut Tuhan lepas semua, jangan kita pandang ke belakang lagi, pandang saja terus ke depan” .

Akhir tahun 2014, iman saya diuji oleh Tuhan. Anak saya ditabrak motor, kondisinya cukup parah dan hanya oleh mujizat dari Tuhan dia bisa sembuh. Saya cuma bersujud dan minta pertolongan Tuhan, mengandalkan Tuhan. saya berkata ke isteri. “Kita harus bawa dalam doa, jangan cuma andalkan obat dokter.  Percaya bahwa mujizat Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu masih berlaku sampai sekarang” Puji Tuhan anak saya sudah sembuh Total.

Tuhan Yesus itu baik. sekarang saya selalu mendukung pelayanan isteri, bahkan anak saya pun sudah ada yang terlibat pelayanan. saya hanya berpesan kepada keluarga. Kalau kita mau ikut Tuhan, harus betul-betul ikut Tuhan karena saya sudah melihat ngerinya neraka itu. Kalo ada masalah kita harus sabar, karena terkadang masalah ada kita sendiri juga yang membuatnya.
 

Menjadi Serupa Dengan Kristus

Membangun Kerajaan Allah, Memiliki Iman Yang Teguh, Bersikap Profesional, dan Mencapai Hidup Sejahtera

— Kekeluargaan, Optimis, Misi, Pengabdian, Antusias, Sejahtera (KOMPAS) —