Renungan

PAULUS VS BARNABAS
Santino Widjaja - 01 June 2017



Bacalah penggalan cerita di bawah ini:

Kisah Para Rasul 15:35-41 - Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: "Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka". Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.

Pertama kali membaca kisah ini, saya sangat menyayangkan mengapa kisah perseteruan 2 rasul kawakan ini harus terjadi?  Tidak bisakah Paulus dan Barnabas menyelesaikannya dengan saling merendahkan hati dan penuh kasih?   Saya harap. Tapi nyatanya? Ayat -ayat di atas mencatat bahwa mereka bukan saja berdebat sengit, namun mengakhirinya dengan perpisahan! Padahal dalam perjalanan misi sebelumnya, Paulus dan Barnabas merupakan duet yang tangguh.  Mereka menuai kesuksesan menanam beberapa gereja baru  di wilayah Asia Kecil. Dan kali ini mereka sedang merencanakan perjalanan lanjutan untuk memfollow-up domba-domba gembalaan mereka. Perdebatan mulai terjadi saat Barnabas mengusulkan Markus, yang notabene pernah meninggalkan pelayanan mereka ketika di Pamfilia. Paulus menolak usulan ini. Barabas bersikeras. Paling tidak ada 3 pelajaran yang kita bisa petik dari kisah pertikaian kedua raksasa iman ini.

1. 
Dua Orang yang Dewasa Rohani Tetap Bisa Bertikai
Apa sih kurangnya kedua pelayan yang hebat ini? Paulus adalah penginjil nomor satu untuk orang-orang non-Yahudi, rasul yang multi-karunia dan penuh Roh Kudus.   Sedangkan Barnabas adalah rasul yang sangat dihormati. Ia adalah seorang yang terkenal jujur dan pendamai. O ya, omong-omong, tahukah saudara, siapa yang meyakinkan murid-murid Yesus bahwa Paulus yang saat itu dikenal sebagai Saulus, si Penganiaya, telah bertobat dan menjadi bagian dari antara mereka?  Barnabas!  (Kis 9 : 27) Paulus dan Barnabas adalah orang-orang yang hatinya baik dan murni, namun memiliki perbedaan prinsip yang lahir dari perbedaan tipe kepribadian.  Paulus yang memiliki kepribadian Dominan secara tegas langsung mencoret usulan Barnabas untuk mengajak Markus.  Ia berpendapat: “Tidak ada kompromi buat orang yang pernah mengkhianati pelayanan. Perjalanan misi bukanlah buat orang yang tidak setia. Titik!” Sebaliknya Barnabas yang memilki kepribadian Stabil,  memilih untuk memberikan kesempatan kedua kepada Markus. “Kasih adalah untuk dipraktekkan bukan cuma dikhotbahkan”,  Begitu mungkin argumennya. Jadi lain kali bila kita mendapati dua orang yang dewasa rohani berselisih dalam hal prinsip yang lahir dari perbedaan tipe kepribadian, tidak perlu menghakimi dan bereaksi yang berlebihan.

2. 
Perpisahan Tidak Selamanya Buruk
Dalam setiap konflik sedapat mungkin tetap harus diusahakan tercapainya kesepahaman. Namun, kalaupun hal tersebut tidak bisa terwujud, sebagai pilihan terakhir, kita dapat sepakat untuk tidak sepakat. Akui dengan kepala dingin bahwa kita memang berbeda dalam sudut pandang, tanpa harus menjadi orang yang tidak menyenangkan. Lagipula, sejujurnya perpisahan tidak selamanya buruk. Barnabas akhirnya membawa Markus berlayar ke arah Barat Daya menuju Siprus.  Sedangkan Paulus menggandeng Silas berjalan kaki pergi ke arah Utara menuju Siria dan Kilikia (Kis 15:39-41). Kedua perjalanan mereka diberkati luar biasa, dan terjadi pelipatgandaan jumlah orang percaya yang dihasilkan dari pelayanan kedua tim yang terpecah ini!

3. Perpisahan Bukan Berarti Permusuhan
Paulus dan Barnabas memang tidak diceritakan menjadi rekan sekerja dalam 1 tim kembali, namun yang jelas mereka tetap rekan sekerja bagi proyek Kerajaan Allah. Paulus tetap bersahabat dengan Barnabas (Gal 2:9). Belakangan Paulus juga menerima Markus, dan menyebut pelayanan Markus penting. “Jemputlah Markus  dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku” (2 Tim 4:11). Di kemudian hari Markus ternyata membuktikan bahwa ia adalah pelayan yang dapat diandalkan. Dalam kasus ini (kebetulan) penilaian Barnabaslah yang benar. Namun Paulus tidak merasa kecil hati. Ia menerima Markus dan dengan berbesar hati memuji prestasi anak muda ini.

[sw]

Menjadi Serupa Dengan Kristus

Membangun Kerajaan Allah, Memiliki Iman Yang Teguh, Bersikap Profesional, dan Mencapai Hidup Sejahtera

— Kekeluargaan, Optimis, Misi, Pengabdian, Antusias, Sejahtera (KOMPAS) —